Tampilkan postingan dengan label Travel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travel. Tampilkan semua postingan
On mid year 2015, my superior give me the opportunity to do Business Travel to the branch office in all areas in Indonesia. I really appreciate this, because I love traveling so much. I don't like sitting all day in my chair and also I'm a cheapskate. But, hey don't judge me. Who doesn't like free travel, right? LOL. To be fair, that's not free at all because I have to work hard and sent the following report to my superior. (Of course, Baby!) It's not a big deal, as long as I can enjoy the city after office hour. 

Me (in the left corner) as Amateur MC in Semarang Branch Office
The Advantage of Business Travel are:

1. Four or Five Star Hotel

Honestly, if I travel with my own money. I'll pick two or three-star hotels. Often times I choose the low budget hostel. Hihihi. To me, the most important thing for accommodation is the cleanliness (because I have to pray in my room).

It's different when I do business travel. My company let me choose where I want to stay. My budget is enough to stay in Standard or Superior Room in Four Star and sometimes in Five Star Hotel. I always book my hotel from Traveloka, Traveloka always gives me a good deal rather than directly book from the hotel. They have many variations from Hostel to Five-star hotels. Another cheap alternative is using corporate prices. Usually, I call the hotel reservation and ask if they collaborate with my company so the can give me the corporate price. Sometimes it's cheaper in Traveloka, sometimes it's cheaper with the corporate price. It depends on what time I book the hotel. If peak season I get a higher price and vice versa.



Superior Room Grand Clarion Hotel in Makassar

2. Good Airlines

It's not all the times, but if I get chance, (mostly because there is no alternatives airlines) I always love to fly with Garuda Indonesia, collect point for my frequent flyer and exchange it for another free ticket. The other day, when I don't allow to take Garuda, for budget reason. I'm happy enough to choose Citilink or Batik Air.

Soo Blue...

3. The After Office Hour

If I have friend who can accompany me (In fact, I dislike solo traveling) to explore the city that I currently visit, I'll extend day in that place. For example, if I am only have given 3 days from office, mostly Wednesday, Thursday, and Friday. I extend until Saturday or Sunday. In late 2015, I get a chance to go for a week to two city, I have to work only from Monday to Wednesday and fortunately Thursday and Friday is a public holiday. Hip Hip Hooray! I went from Sunday morning and the Sunday afternoon the next week and arrive in-home at 8 PM. The next day, which is Monday I have to work as usual. My co-worker sometimes ask me, "Are you not exhausted?" You can guest my answer, "No I'm not!" with a joyful smile on my face.

After Workshop Group in Sam Poo Kong Temple


Sunday Afternoon in GWK before meeting in Monday Morning

4. Picture to Take

I'm an amateur photographer who loves to takes any kind of picture especially food and landscape photography. Another business trip means another photo stock in my Laptop. Sometimes, I upload in my Instagram. For me, photo is the most valuable thing I get from traveling.

Lawang Sewu, Historical Building in Semarang

5. No Need To Take Annual Leave

If you get paid from your steady job then absolutely you have the responsibility to your job. It's common in Indonesia that employee only get 12 days of annual leave. So, if you like most employee in this country, you will find it difficult to take long days to discover another place. Moreover, if there is no one can temporarily replace your position. Business trip is the only chance that I both can travel and also to finish my job as usual.

6. Networking

One of the biggest benefit I get from a business trip is a new friend. I met new employee from the branch office and also my company's client. In general, people in region are nicer than people in big cities. They happy to escort me exploring the city. They like to share local food and a great place for photography.

Pallubasa Serigala (Makassar Culinary)

7. Travel Allowance

As a frugal person, this is one of the things that I love from Business Travel. OMG! I can do this all my life. ROTFL. I can buy something as a gift for my co-worker and my family, usually food.  I can share the happiness to people around me.

8. Boring Free

It's tiring and boring to sit in my chair for 9 hours and more. Plus the traffic in Jakarta which happens almost every day. It really gives me headache. Nice to see the other side of Indonesia. Get new knowledge about the culture in another town.

My Genuine Smile

I am grateful with my current job, and I wish they still give me chance to travel around Indonesia. Because Indonesia is an amazing country, isn't it? 
Karena kesibukan kerja blog ini jadi terbengkalai deh, mohon maaf pembaca setia. Silahkan membaca perjalanan Saya di Medan. Semoga berkenan :)

Berawal dari ajakan Ka Fina teman, yang terus menerus untuk mengunjunginya, akhirnya pada bulan Agustus 2015 Saya memutuskan beli tiket pesawat ke Medan (tempat tinggal Ka Fina).

Landing di Kuala Namu airport jam 14.20 pada hari Jumat 14 Agustus 2015, lalu karena baru pertama kali. Saya celingukan mencari dimana Railink (kereta api bandara) berada. Tak lama, Saya menemukan counter tiket dan mengeluarkan uang senilai Rp 100.000 untuk tiket Railink yang berangkat pukul 15.00. 

Kesan pertama Saya ketika menaiki Railink adalah... Wow, keretanya bersih dan terlihat canggih sekali. Agak mirip dengan Shinkansen untuk design luarnya. Beda jauh dengan KRL di Jakarta (Ya iyalah Gladys, masa empat ribu perak mau dibandingin sama seratus ribu perak! hihihi) Namun, setelah Railink berjalan yang Saya pikirkan adalah, ya ampun leletnyaaa. Katanya sih memang kalau arah Kualanamu menuju Medan bisa makan waktu sampai 45 menit. Namun arah sebaliknya diprioritaskan menjadi 30 menit. Tapi tetap saja, sebagai orang yang ga sabaran. Saya jadi gregetan... hehehe...

Tiba di Stasiun Medan, Saya dijemput dan diantar ke kantor Ka Fina. Tidak menunggu berapa lama, Saya, Ka Fina beserta beberapa teman yang lainnya langsung meluncur ke Home Karaoke Studio, untuk merayakan Ulang Tahun Ka Fina.

Keesokan harinya, Ka Fina, Meida, dan Risye setuju untuk menemani Saya ke Danau Toba! Yuhuuu!!! Inilah salah satu alasan kenapa Saya akhirnya memutuskan jalan-jalan ke Medan. Kota Nun Jauh dari Jakarta.

Berangkat Pukul 8 Pagi, disupiri oleh teman suaminya Ka Fina, kami berlima bertolak menuju Danau Toba. Untuk menuju Parapat (nama daerah tempat Danau Toba berada) membutuhkan waktu sekitar kurang lebih 4 jam. Pertama kita harus melewati kota Brastagi, lalu Kabanjahe, Bintang terakhir di Parapat. Saya baru tahu kalau di Sumatera itu struktur jalannya Hutan-Kota-Hutan-Kota-Hutan terus begitu sampai tiba. Dan asiknya adalah, tidak ada sinyal handphone! Jadi bisa fokus ngobrol dan foto-foto. Meskipun memakan waktu yang tidak sebentar, Saya menikmati setiap menit perjalanannya karena Ka Fina dan Meida orangnya rame. Jadi, Saya yang punya kepribadian kadang rame kadang diem ya ikut mendengarkan saja sambil sesekali nimbrung cerita.

Dalam perjalanan, kami mampir ke Taman Wisata Lumbini, sebuah Pagoda Budha yang cukup besar yang terdapat di Barus Jahe. Masuk disana anehnya gratis lho!! Parkir saja tidak bayar!! Hanya didata saja nama dan nomor telpon pengunjung, mungkin untuk data total pengunjung saja. Sungguh bertolak belakang sekali dengan apa yang terjadi di Masjid Al Mashun, tempat ibadah yang seharusnya memberikan kenyamanan kepada orang yang ingin sholat. Balik ke Lumbini, disana Saya seperti merasa berada di Thailand! Bangunan Pagoda nya berdiri kokoh, cantik dan megah, berwarna sewarna emas. Pagoda ini merupakan replika dari Pagoda Shwedagon atau juga disebut Pagoda emas Yangon yang berada di Myanmar. Karena sedang tidak ada kegiatan keagamaan, kami masuk ke dalam dan melihat-lihat interior Pagoda tersebut. Didalamnya terdapat ratusan lilin-lilin yang dinyalakan dan disudut ruangan, mata Saya menangkap ada sebuah replika pohon yang banyak terdapat kartu -kartu yang digantung dan ternyata setelah di-amati adalah tulisan-tulisan permohonan dari orang-orang. Ooh, ternyata ini Wishing Tree, tho.

Pagoda Lumbini


Namaste!

Kami pun melanjutkan perjalanan dan sekitar pukul 12 lebih sedikit, akhirnya kami sampai di Simalem Resort di daerah Parapat. Kami sengaja tidak langsung ke tepi Danau Toba nya. Karena referensi dari Suami Ka Fina kalau Danau Toba lebih indah jika dilihat dari Simalem. Dan ternyata benar!!! Sungguh cantik pemandangan yang disuguhkan oleh Danau Vulkanik ini. Bener-bener membuat Saya tercengang. Kadang ketika Saya traveling, ada saat-saat sendu dimana saat itu Saya merenungi kehidupan dan bersyukur. Betapa cantiknya ya Negeri ini, dan Saya pun serta merta mengucap Allahu Akbar, Maha Besar Engkau Ya Allah, yang mampu membuat kaldera secantik dan seindah ini. Akhirnya Saya sampai juga di Danau terbesar di Asia Tenggara, Danau yang dulu hanya Saya bisa lihat di uang seribuan. Wkwkwk



Puas foto-foto, dan Ka Fina belanja banyak oleh-oleh di Simalem (Saya lupa nama Tokonya apa). Kami meluncur turun. Ka Fina menawarkan apakah mau mampir di Air Terjun Sipiso-piso yang tidak terlalu jauh dari Simalem. Saya pun meng-iyakan. Setelah itu Saya langsung menyesal karena mampir disana. Kenapa? Bukan karena air terjunnya tidak menarik. Bukan sama sekali. Tapi karena ada Anjing hitam yang nyeremin banget yang berkeliaran disana! Jadi, si Anjing yang mirip banget sama Sirius Black di Harry Potter itu loncat keliling kesana-kemari. Dan, ketika dia sedang lari berkeliling mendekati kami yang sedang duduk-duduk, hanya Saya yang spontan bangkit dan agak sedikit lompat ke samping minta perlindungan supaya ga terlihat si Anjing, Eeh apesnya, padahal si Anjing sudah lari agak menjauh dari kami, dia tiba-tiba sadar kalau ada orang yang ketakutan, dia muter balik badannya, dan selama 1 menit yang menakutkan dia menatap garang ke Saya. Kami saling pandang-pandangan!! Wah pokoknya Horor deh! Untung si Anjing bosen dan ga menghampiri Saya. Saya gatau kalo yang terjadi sebaliknya, bisa-bisa Saya jatuh ke jurang. Mengingat posisi Saya pas mengindar dari si Anjing memang sudah di tepi jurang. Yang bikin Meida teriak-teriak ketakutan.

Pulang dari sana, kami mampir di Warung Makan muslim di Brastagi, dan memesan wajiknya. Wih, enak banget! Ga kalah dengan Wajik di Pulau Jawa. Ketannya Pulen, gurih dan manis. Mantab deh pokoknya. Yang ga mantap adalah ternyata perjalanan pulang makan waktu lebih lama, karena maceet ga ketulungan. Ampun deh... Sampai jam 10 Malam di Medan, kami langsung beristirahat.

Minggu pagi, Saya diajak Ka Fina untuk Kulineran di Kota Medan, pagi Sarapan Lontong Kak Lin yang letaknya di depan SMA 1 Medan, siangnya setelah berkunjung di Istana Maimun dan Masjid Al Mashun untuk foto-foto dan Sholat. Saya dan Ka Fina mampir di Restoran Tip Top, restauran tua yang menyajikan kue-kue jadul tapi enak. Sorenya, kami makan di Restoran Nelayan di Sun Plaza, yang Pancake Alpukatnya ampun-ampunan enaknya!. Hari itu ditutup dengan Es Krim Pot yang keliatannya seperti tumpukan tanah liat dan cacing. Mungkin yang gak tau kalau itu es krim, ngeliatnya pasti jijik. Tapi seriusan deh, wihhh enaknya tuh es krim coklat apalagi Saya milih toppingnya Oreo!. Saya adu balap makan cepat es krim dengan si Abang, anaknya Ka Fina yang pertama. Dan ternyata Saya kalah, karena gigi ini gak kuat lagi makan yang dingin-dingin dengan terlalu cepet. Faktor U.. Huhuhu

Masjid Raya Al-Mashun

Bergaya sedikit di Istana Maimun :)

Senin, 17 Agustus 2015, tiba waktunya Saya mengucapkan salam perpisahan dengan Kota Medan. Sebelumnya Saya diajak muter-muter Jalan Kruing untuk membeli oleh-oleh untuk temen kantor dan orang rumah. Bolu Meranti, Bika Ati Raja, Pancake Durian, Asinan Bengkoang, Risol Gogo, Sirop Markisa yang pokoknya bikin bagasi Saya hampir over! Hehehe. Setelah itu Saya diajak mampir di Durian Ucok. Dan dipaksa mengabiskan satu durian ukuran jumbo sendiri! Wah, sampe eneg-eneg Saya. Eh, si Ka Fina mah emang dasar hantu durian. Dia sih nyantai-nyantai aja mukanya. 

  
   Lontong Kak Lin yang Maknyus!

Es Krim Pot

Di penghunjung perjalanan, Saya akhirnya tahu bahwa di Medan ada tiga Budaya. Budaya Melayu, Budaya Islam dan Budaya Kristen. Nah, Budaya orang Medan Kristen banyak memiliki kesamaan dengan orang-orang Toraja di Sulawesi Selatan. Rumah adat mereka mirip. Sepanjang jalan Brastagi-Kabanjahe jarang sekali ditemukan penjual makanan halal, begitu pun di Toraja (Saya akan bahas tentang Toraja di postingan selanjutnya). Bahkan paras muka orang Batak dan Toraja tidak jauh berbeda lho kalau diperhatikan. Ya kesimpulan asal-asalan dari Saya sih mungkin saja zaman dulu ada orang Medan yang merantau ke Toraja atau malah sebaliknya. Who knows? Yang jelas Indonesia memang memiliki kebudayaan yang sangat beragam, ya. Jadi makin bangga jadi orang Indonesia.

Terakhir, menurut Saya Medan adalah tempat yang tepat untuk wisata Kuliner. Karena makanannya enak-enak banget! Dan cocok di lidah Saya. Makasih ya Ka Fina yang baik banget selama Saya disana. Guys, kalian harus masukan Medan sebagai daftar tujuan wisata. Because, once in a while you need a great escape, right? And I think, Medan would perfectly suit for you to try on. Happy Vacation!!






Sudah lama aku dan teman-teman kuliahku merencanakan liburan sama-sama. Memang kami menjadwalkan untuk merealisasikan vacation tepat setelah pelaksanaan wisuda. Jadilah kami menetapkan tanggal 22,23 dan 24 Mei 2015 menjadi tanggal yang sangat tepat dan menjadikan Pulau Pahawang dan Teluk Kiluan di Provinsi Lampung menjadi destinasi liburan kami.
Jumat, tanggal 22 Mei pukul 8 Malam kami berkumpul di Mal Plaza Semanggi, Jakarta. Kami pun memutuskan naik Taxi ke arah Daan Mogot dan kami menggunakan Bus menuju terminal Kalideres. Dari Kalideres kami naik Bus Arimbi AC Ekonomi ke arah pelabuhan merak, ongkos Bus tersebut hanya Rp 25.000. Salah seorang temanku yang bernama Dani, adalah orang asli Lampung. Jadi dia sangat mengetahui seluk beluk transportasi Jakarta menuju Lampung.
Ketika sudah sampai di Pelabuhan Merak, Kami mampir di Indomart membeli beberapa keperluan yang lupa terbawa seperti sabun mandi, sendal jepit dan beberapa camilan untuk dimakan bersama di Kapal. Lalu, kami antri membeli tiket Kapal Pelni seharga lima belas ribu rupiah (ya benar, hanya RP 15.000 harga yang sangat murah mengingat kami akan melintasi selat sunda dari Pulau Jawa Menuju Pulau Sumatra). Jujur saja, ini pengalaman pertamaku naik Kapal jadi agak norak sedikit..hehehe.. Ternyata Kapal Pelni itu dibagi menjadi dua Bagian deck atas dan Kabin. Karena kapal yang kunaiki kelas ekonomi, jadi tidak ada pemandangan seperti yang kita lihat di Kapal Titanic..hihihi ya iyalah! Kami tiba di Kapal pukul 02.00 pagi Waktu Indonesia Barat. Sesampainya di Kapal, kami sangat mengantuk jadilah kita putuskan untuk tidur dan ternyata Kabin bawah semua sudah penuh. Kami naik ke deck atas dan tidur di kursi panjang yang terbuat dari besi. Memang tidak terlalu nyaman tapi karena memang sudah sangat mengantuk dan aku termasuk tipikal orang yang bisa tidur dimana saja ya akhirnya pulas saja tidurnya.
Aku terbangun dengan hentakan dari dua tangan manusia, awalnya aku langsung sigap dan kaget sekali karena bingung dan masih tidak sadar sedang ada dimana. Lalu dengan cepat aku menyesuaikan diri. Ternyata tangan tersebut adalah tangan Bang jek dan Merlyn yang mencoba memberitahuku kalau Kapal sudah hampir merapat di Pelabuhan Bakauheni. Yeaay, akhirnya aku akan menginjakan kakiku yang pertama kalinya di Tanah Sumatera. Aku menyalakan telepon genggamku dan melihat ternyata sudah pukul setengah lima pagi. Perjalanan Merak ke Bakauheni kurang lebih memakan waktu selama tiga jam. Lalu, sebelum kapal merapat aku mampir di toilet kapal yang cukup bersih, namun sayang tidak ada tissue untungnya aku selalu membawa tissue kering kemanapun aku pergi. Kapal pun merapat dan kami turun. Aku celingukan mencari musholla, dan Alhamdulillah ada. Kami pun melaksanakan Ibadah Sholat Shubuh di musholla tersebut. Sekeluarnya dari musholla kami diserbu oleh calo Bis yang memaksa naik ke berbagai tujuan. Si calo berkata, “Mau kemana dek? Padang? Ayo naik Bus ini saja.” Lalu ada lagi calo yang lain, “Dek, ayo dek ke Medan naik Bus ini, dijamin selamat sampai tujuan.” Aku pun berfikir dalam hati, wah ternyata tidak ada bedanya ya Bandara dan Pelabuhan, sama-sama banyak calo yang maksa naik kendaraan mereka padahal tujuan kami hanya ke terminal Rajabasa di Bandar Lampung malah dipaksa ke Medan!
Kami pun naik Bus Ac Ekonomi dengan tarif dua puluh lima ribu rupiah menuju Rajabasa dan aku melanjutkan tidurku yang sempat terpotong tadi. Aku terbangun pukul tujuh pagi dengan perut keroncongan. Untungnya tidak berapa lama kemudian kami sudah tiba di Rajabasa (ternyata Terminal Rajabasa berdekatan dengan Universitas Lampung). Aku sudah merasakan lapar yang tak tertahankan dan sambil menunggu jemputan kami datang, aku memesan nasi uduk. Aku tidak mengharapkan rasa yang enak dari nasi uduk itu karena tau sendiri kan makanan di terminal biasanya hanya ala kadarnya. Ternyata bener kata pepatah “Never judge a book by it’s cover.” Nasi uduknya enaaaaak banget!! Pulen dan gurih santan. Aku baru tahu dari Dani, ternyata Lampung memang penghasil kelapa, pantas saja nasi uduknya mantap begitu. Untuk seporsi nasi uduk dengan lauk telur sambal dan goreng tempe kering aku hanya membayar delapan ribu rupiah.
Jemputan (kami menyewa mobil Avanza dan seorang driver selama perjalanan kami disana dari rental mobil milik temannya Dani) kami pun datang. Kami melanjutkan dua jam perjalanan menuju pantai Klara (kelapa rapat) pantai itu merupakan gerbang menuju pulau Pahawang. Tapi, yang sedihnya adalah ternyata pemilik pulau Pahawang sedang berkunjung ke pulau tersebut. Jadi, tidak boleh ada pengunjung yang merapat di pulaunya itu, huuuuh pelit sekali. Padahal kan kami paling-paling hanya numpang foto saja.


Kami menyewa peralatan snorkling dan kamera underwater. Berganti pakaian dan langsung menaiki kapal sewaan ke tengah laut menuju titik dimana kami bisa snorkling dengan bebas. Lampung ternyata lebih panas dari Jakarta! Apalagi pantainya.. jadi kami mengoleskan Sebamed SPF 30 PA+++ ke badan kami, itu pun kaki aku tetap belang-belang persis kayak kue lapis legit…ckckck…. 


Balik ke topik, kami ditemani dua orang abang-abang, yang satu bertugas sebagai driver kapal dan yang satu lagi menemani kami snorkling (abang ini jago banget renangnya!). Di titik snorkling pertama, kapal kami diturunkan jangkarnya dan aku merapikan DSLR ku kedalam tas kamera, ngeri banget sebenernya bawa-bawa kamera ke tengah laut. Tapi aku bertekad harus dapet gambar yang keren buat di pampang di Instagram dan di blog ku ini. Kami memasang sepatu snorkling (lupa namanya) dan pelampung serta kacamata renang. Lalu aku nekad loncat dari atas kapal ke laut, padahal sama sekali ga bisa renang! Untung pelampungnya lumayan safety. Di tengah laut, aku niat banget buat dapetin angle yang nunjukin indahnya lautan Indonesia , aku lepasin pelampungku dan menyelam kedasar. Akhirnya setelah sepuluh kali take, Dani si tukang foto underwater dan si Abang bisa bernapas lega karena aku ga nyusahin mereka lagi. Dapet juga nih foto. Hihihi…

Setelah masing-masing dari kami dapet foto lagi snorkling, kami pindah ke titik lain, di titik ini aku udh ga mau di foto lagi (males juga yang jadi tukang fotonya..hehehe). Sepertinya jadi ga nikmatin perjalanan banget kalo foto-foto terus. Aku liat view di bawah laut, cantiiik banget. Malah aku ketemu Nemo! Cuma bedanya Nemo ini warnanya hitam bukan orange yang seperti versi Disney. Kami merapat di pantai yang aku numa nama pantainya apa, lalu lanjut narsis foto-foto. Ketika udah capek dan pengen kembali ke pantai Klara, kami ditawarin naik Banana Boat oleh dua orang mang-mang sunda (FYI, di Lampung ternyata banyak banget orang Sunda, tepatnya dari Pandeglang). “Eneng-eneng dan akang-akang yang cantik dan ganteng, mau naik Banana Boat ga? Kalau engga kami mau pulang, capek banget narik dari pagi belom ada yang maen Banana Boat.” Karena kasian dan pengen juga main Banana Boat akhirnya kami naik juga, tapi temen ku Bu Ika, nawar dulu harganya (dasar emak-emak, pasti deh apa-apa ditawar) Jadilah transaksi deal dengan Rp 140.000 untuk tujuh orang. Seru sih naik BB tapi kesannya adalah jangan naik kalo anda jantungan. Bagi yang udah pernah naik pasti tau. Sepersekian detik sebelum BB nya diterbalikan oleh si Mang, jantung ini serasa pindah ke kaki. Dan pas kecebur di laut itu rasanya panik banget! Kayak bakalan tenggelem dah, padahal pake pelampung… Aku mengap-mengap nyari oksigen ke atas. Untung ditarik sama temenku yang jago berenang.

Selesai main Banana Boat kami kembali ke Pantai Klara, dan berganti pakaian kering. Langsung cap cus menuju Teluk Kiluan. Teluk Kiluan terletak di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Perjalanan kesana memakan waktu 2 Jam, dan kami lapar lagi abis berjam-jam main air. Makan deh tuh nasi padang di Mobil. Nasi padang yang rasanya standar itu jadi nikmat karena disantap barengan teman. Setelah kenyang, aku berjuang melawan rasa kantuk karena pengen lihat pemandangan jalanan di Lampung. Ternyata jalanan Lampung mirip-mirip jalanan di Sukabumi. Jalannya tidak terlalu besar. Di kiri dan kanan jalan, masih terdapat rumah tradisional Lampung.
Nuwo Sessat (Rumah Tradisional Lampung)

Akhirnya sampai deh kami di penginapan. Awalnya kami agak sanksi dengan penginapan kami, karena mobil kami di kawal sepeda motor melewati tempat pembuangan sampah. Aku udah membayangkan penginapan kami akan kurang layak, eeh tapi ternyata penginapan kami kece badai. Kami dapat penginapan persis di depan Teluk Kiluan. Dua kamar tidur, dua extra bed, dapur dan kamar mandi dalam. Bersih pula. Cukup oke deh buat harga yang cukup terjangkau.
Penginapan Tepi Laut di Kiluan (Price +/- Rp 400.000/ Malam)

Minggu, jam 6 pagi kami semua sudah siap naik Jukung atau perahu kecil, satu Jukung untuk 3 orang. Lalu kami bertolak menuju tengah Teluk Kiluan untuk tour melihat lumba-lumba. Cukup lama kami menikmati pemandangan rumah-rumah panggung di tepi teluk dan sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya kami berhasil sampai di titik dimana ratusan lumba-lumba sedang berkumpul. Topografi kiluan itu berbukit dan berlembah. Setiap jengkal laut dan hasta daratan, serta gunung dan dalam lautan seakan menghipnotis semua teman-temanku, mereka merasakan sebuah kenyamanan yang mendamaikan. Lumba-lumba yang melompat-lompat ria juga akan memberikan semangat untuk sebuah pertunjukan alam di wilayah laut Lampung. Psst… katanya sih, lumba-lumba di Kiluan adalah populasi lumba-lumba terbanyak yang ada di Asia bahkan Dunia. Saat terbaik untuk melihat lumba-lumba adalah di bulan Mei sampai Agustus.


Kami sangat bahagia melihat lumba-lumba berenang bebas di alamnya. Berenang dengan lincahnya. Sementara di tempat lain lumba-lumba yang kurang beruntung di sirkus keliling yang harus hidup di kolam kecil menjadikan ruang gerak terbatas, hidup di air klorin, menahan lapar karena tergantung pawangnya dan harus dipindahkan kesana kemari dari kota satu ke kota lain dengan cara yang semena-mena. Miris memang… Namun, hal-hal seperti ini yang kadang kurang disadari oleh masyarakat awam, perlakuan dibalik pertunjukan sirkus lumba-lumba.
Puas menatapi atraksi lumba-lumba, kami sarapan di Pulau Kelapa dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Laguna Gayau. Laguna Gayau terletak di sebelah timur teluk Kiluan. Kami harus berjalan kaki kurang lebih satu jam untuk sampai di sana. Dari pemukiman penduduk menanjak menuju bukit kebun gayau (pisang hutan) dan pohon-pohon coklat. Sesampai di puncak kita turun ke sebuah pantai berpasir putih dengan ornamen karang di beberapa sisi. Dari sini berjalan ke kanan menyusuri karang terjal. Sesekali menerabas air laut berombak ganas menembus karang bolong. Tapi yang paling menantang ketika kami harus meniti jembatan sebilah batang pohon. Tak berapa lama kami sampai di sebuah laguna dengan air hijau kebiruan membentang. Dinding karang melindungi dari ganasnya ombak. Tak sabar ingin menceburkan dan mengintip ada biota laut apa di dalamnya. Ikan kecil nampak berenang bebas di dalamnya, tumbuhan laut berwarna kemerahan menempal di dinding laguna.


Tepat pukul dua belas kami memutuskan untuk menyudahi perjalanan kami di lampung dan berangkat menuju Jakarta. Walau badan super lelah dan besoknya kami harus melanjutkan aktifitas sehari-hari tapi kami sangat puas dan senang sekali bisa menginjakan kaki kami ditempat yang luar biasa indah pemandangan alamnya.
Sungguh Indonesia memang surga bagi para pecinta jalan-jalan
Gladys Franatha. Diberdayakan oleh Blogger.